Acknowledgement | Terima Kasih

Gentayangan: Ucapan Terima Kasih

Intan Paramaditha
Sydney, 4 Februari 2018

Proses penulisan Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu dimulai di tahun 2008 tanpa struktur maupun judul yang jelas. Pada saat itu saya hanya tahu bahwa saya ingin menulis cerita-cerita bertema perjalanan, ketercerabutan, kosmopolitanisme, dan tanah air yang diikat oleh imaji sepatu merah. Dalam kurun waktu 9 tahun Gentayangan tumbuh dan berubah bentuk di berbagai kota dan negara, menyelinap di tengah sejumlah perpindahan dan keputusan besar yang merepotkan, mendebarkan, riuh rendah. Tapi menulis, sebagaimana kita tahu, adalah pergulatan di jalan sunyi; di tengah yang berisik dan yang kacau, saya selalu berupaya membangun ruang kedap suara untuk Gentayangan. Saat ia diterbitkan pada bulan Oktober 2017, situasi menjadi agak berbeda sebab ia menempuh perjalanan yang lebih hangat dan ramai. Banyak sekali teman, kelompok, dan institusi terlibat yang memungkinkan novel ini menjangkau pembacanya.

Saya berterima kasih kepada editor saya di Gramedia Pustaka Utama, Mirna Yulistianti, yang membantu kelahiran Gentayangan dan dengan sabar mengurusi begitu banyak aspek dari produksi hingga peredaran, serta rekan-rekan yang terlibat dalam tim editorial, desain, dan publikasi GPU (Wisnu, Intan F, Sthela, Sasa, Ajeng, Dian — senang sekali bekerja dengan tim yang solid).

Terima kasih kepada Sapardi Djoko Damono, Kartika Jahja, Eka Kurniawan, Gunawan Maryanto, dan Leilani Hermiasih yang telah membagi kesan kepada publik sebagai pembaca awal buku ini.

Serial peluncuran buku Gentayangan meliputi pre-launch di Bandung (16/10/2017) serta peluncuran di Ubud (26/10/2017), Jakarta (15/12/2017), dan Yogyakarta (18/01/2018). Rangkaian acara ini tak akan terwujud tanpa dukungan dari institusi (GPU, Ubud Writers and Readers Festival, IFI Bandung, Paviliun 28) maupun kolektif independen yang saya kagumi: Omuniuum, Paviliun Puisi, dan Teater Garasi.

Secara personal, saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang turut memperkenalkan Gentayangan kepada publik melalui tulisan, pertunjukan, maupun berbagai bentuk kerja sama: Tiffany Tsao, Asri Saraswati, Gita Putri Damayana, Alia Swastika, Eve Tedja, Theoresia Rumthe, Marissa Anita, Rizal Iwan, Yudi Ahmad Tajudin, Norman Erikson Pasaribu, Gratiagusti Chananya Rompas, Mikael Johani, Iit Boit, Lusia Neti Cahyani, Melancholic Bitch dan Pemuda Setempat Band (Ugoran Prasad & Yennu Ariendra).

Bahan bacaan yang mempengaruhi buku Gentayangan saya susun dalam silabus “Travel and Gender in Cinema,” pertama kali saya ajarkan di Sarah Lawrence College (Fall 2015). Untuk para mahasiswa saya yang telah bertukar pikiran dalam diskusi yang menyenangkan, juga Malcolm Turvey yang memberi kesempatan bereksperimen, saya ucapkan terima kasih. Silabus “Travel” kemudian saya ubah dalam bentuk yang sedikit berbeda di tempat saya mengajar saat ini. Terima kasih kepada rekan-rekan saya di Department of Media, Music, Communication & Cultural Studies di Macquarie University.

Saya berterima kasih kepada sejumlah media yang telah menampilkan berita, resensi, ataupun wawancara seputar Gentayangan: The Jakarta Post, Magdalene, Kompas, dan lainnya (silakan lihat di sini). Terima kasih kepada tim redaksi dan juri undangan Majalah Tempo yang telah memilih Gentayangan sebagai karya sastra prosa terbaik 2017.

“Mengunjungi Rumah Hantu,” bagian dari novel ini, telah diterjemahkan oleh Stephen J. Epstein ke dalam Bahasa Inggris dengan judul “Visiting a Ghost House.” Terima kasih kepada Stephen atas kolaborasi yang menyenangkan selama beberapa tahun terakhir dan juga kepada Asymptote Journal yang telah menerbitkan nukilan novel Gentayangan. Saat tulisan ini dibuat, Gentayangan tengah memulai petualangan baru yang bertumpang tindih dengan rute kumpulan cerpen saya dalam Bahasa Inggris, Apple and Knife. Mungkin beberapa tahun lagi saya harus membuat daftar ucapan terima kasih yang lebih panjang, namun di awal perjalanan yang lain ini, saya berterima kasih kepada Stephen, Sam Cooney dan Elizabeth Bryer dari Brow Books, dan Kelly Falconer dari Asia Literary Agency.

Ugoran Prasad — pembaca, kritikus, editor, dan rekan proyek A Red Shoe Odyssey, proyek serial foto sepatu merah yang terkait dengan Gentayangan — menyaksikan transformasi novel ini dari monster kecil menjadi monster besar yang membuat rumah kami bertambah sempit. Jabang monster (sepertinya tidak cocok disebut jabang bayi) itu lahir di tengah proses kami menulis Kumpulan Budak Setan bersama Eka Kurniawan. Gentayangan barangkali akan tumbuh menjadi monster yang berbeda tanpa kebiasaan saya dan Ugo membaca karya satu sama lain dan bertukar gagasan selama 10 tahun terakhir. Untuknya, saya tukar buku ini dengan sebuah cermin dan sepasang sepatu merah.

Untuk Ilana: Rumahmu ada di mana-mana. Saat nanti kau pilih petualanganmu sendiri, kau tahu bahwa gadis bersepatu merah tak takut menyeberang.