Antara Paspor dan Romantisme Perjalanan

Artikel di bawah ini, terbit di majalah Esquire pada bulan Juli 2014, merupakan sepercik refleksi dari riset untuk novel Gentayangan. Di sepanjang bulan Juni 2014, saya masih berada di New York dan sedikit mengalami disorientasi karena baru saja menyelesaikan disertasi Ph.D (berpisah dengan proyek besar dan lama selalu menyisakan perasaan kosong — saya mengalaminya juga dengan Gentayangan di tahun 2017). Saya memutuskan untuk kembali ke proyek Gentayangan dengan mengumpulkan bacaan tentang perjalanan, globalisasi, dan kosmopolitanisme, yang tidak hanya berguna untuk novel tapi juga untuk silabus kelas “Travel” yang saya ajar tahun berikutnya. Dari jasa interlibrary loan perpustakaan NYU saya pinjam beberapa novel best-seller tentang perjalanan (ya, saya baca semua novel yang disebut dalam tulisan ini: dari Ahmad Fuady hingga Iwan Setyawan), dan saya juga membaca ulang karya-karya lama Budi Darma, Nh. Dini, dan Umar Kayam.  Artikel ini terlalu singkat, namun ia salah satu catatan yang menggambarkan konstelasi gagasan novel Gentayangan.

Antara Paspor dan Romantisme Perjalanan

Intan Paramaditha, Esquire, Juli 2014.

Beberapa tahun terakhir saya tergerak untuk mencermati bagaimana perjalanan dituliskan di Indonesia. Ada dua hal yang melatarinya. Pertama, perjalanan sulit dipisahkan dari hidup saya sebagai pengelana, atau lebih tepatnya perantau, yang tinggal selama hampir satu dekade di Amerika Serikat. Kedua, sebagaimana saya pelajari dari generasi yang lebih muda, saat ini ada dua genre yang populer di kalangan pembaca. Genre tersebut adalah travel writing, yaitu tulisan tentang pengalaman jalan-jalan yang biasanya berawal dari blog, serta apa yang saya sebut genre “man jadda wa jadda” (siapa yang bersungguh-sungguh maka akan berhasil). Saya meminjam istilah ini dari novel best-seller Ahmad Fuady, Negeri 5 Menara. Novel Fuady, Laskar Pelangi (Andrea Hirata), dan 9 Summers 10 Autumns (Iwan Setyawan) menceritakan tokoh-tokoh yang meraih mimpi sekolah maupun bekerja di luar negeri berbekal kesungguhan, alias “man jadda wa jadda.”

Perjalanan kerap digambarkan secara romantis; di dalamnya terdapat narasi penemuan jati diri, petualangan, sekaligus kerinduan atas rumah. Pertanyaannya: apa yang terungkap dari pengalaman tidak romantis? Saya teringat kerepotan mengurus paspor demi memenuhi sebuah undangan ke Paris. Untuk mengunjungi Perancis selama kurang dari satu minggu, saya harus menyiapkan dokumen yang sama seperti saat melamar visa tinggal di Belanda selama tiga bulan. Yang membuatnya lebih rumit adalah status saya sebagai manusia ‘kejepit.’ Sebagai WNI berstatus “legal alien” di AS, setiap kali membuat visa selain AS saya harus berurusan dengan dokumen legal dari tiga – bukan hanya dua – negara berbeda. Di Konsulat Jenderal Perancis, dekat Central Park, New York, saya mengantre bersama beberapa pemegang paspor India dan Cina. Jarang sekali ada warga AS di situ, sebab tentu saja dengan paspor AS seseorang tak butuh visa untuk kunjungan singkat (1-3 bulan) ke sekitar 160 negara. Tapi tidak seharusnya saya cemburu. Visa saya selesai dalam sehari, tak seperti pemegang paspor negara tertentu yang harus menunggu hingga dua minggu.

Globalisasi, seperti yang ditunjuk banyak ahli ilmu sosial, ditandai dengan ramainya lalu lintas modal ekonomi dan budaya serta melemahnya otoritas dan batas-batas negara. Kita semua dimungkinkan untuk menjadi mahluk kosmopolitan. Namun di tempat-tempat tertentu batas itu justru sangat kokoh, dan kita menghadapi wajah birorasi negara yang sebenar-benarnya (wajah itu tak selalu ramah tentunya). Mobilitas transnasional dan kosmopolitanisme, menurut Aihwa Ong, bergantung pada infrastruktur negara. Kita boleh bersikap skeptis pada negara, tapi sayangnya, kita tak bisa mempersetankannya sekalipun dalam perjalanan.

Perjalanan mencerminkan konstelasi dunia yang terus berubah dan konsekuensinya pada gerak individu. Genre travel writing dilahirkan oleh perubahan ini. Meski travel writing sudah berumur ratusan tahun, pada penerbitan buku-buku seperti The Naked Traveler (Trinity) kita melihat tata dunia global yang kita diami: makin pesatnya industri turisme, perkembangan teknologi (termasuk internet dan penerbangan murah), serta munculnya beragam praktik sosial seperti komunitas Couchsurfing. Bepergian ke luar negeri bukan lagi monopoli bangsawan maupun elit intelektual, seperti ketika Gustave Flaubert mencatat perjalanannya ke Timur di abad 19. Tulisan travel bloggers/writers turut membangun wacana kontemporer tentang perjalanan. Misalnya, para pengelana lebih suka istilah “traveler” ketimbang “turis.” Jika stereotip “turis” adalah mereka yang memakai jasa biro wisata serta mengutamakan berfoto dan berbelanja, “traveler” menjelajahi tempat-tempat yang jarang didatangi untuk mempelajari hal-hal baru.

Sementara itu, kesuksesan fiksi bergenre “man jadda wa jadda” di pasar perbukuan menunjukkan semakin mengemukanya hasrat bepergian. Genre ini bisa dilihat sebagai catatan perjalanan dalam bentuk lain. Meminjam terminologi visa non-imigran, jika para travel writers pergi dengan visa turis (terlepas keinginan mereka disebut traveler), tokoh-tokoh novel seperti Negeri 5 Menara memegang visa berbeda. Paspor mereka mungkin ditempeli visa pelajar atau pekerja (di Amerika: kategori F, J, H, atau O), yang artinya diizinkan tinggal lebih lama. Genre “man jadda wa jadda” sering disebut “sastra motivasi” karena pesannya cukup jelas: siapapun dirimu, murid di sekolah terpencil maupun anak supir angkot, sekolah/ bekerja di luar negeri bukan hal mustahil dengan kerja keras dan optimisme. Uniknya, meski bertumpu pada pergerakan ke luar negeri (yang digambarkan utopis), cerita tentang pahit manisnya hidup di Indonesia – sebelum perjalanan dilakukan — mendapat porsi yang sangat besar. Penekanan pada cerita di masa sulit merupakan strategi naratif tersendiri, sebab di sinilah pembaca memperoleh panduan meraih impian sembari mengakali minimnya modal ekonomi.

Dalam kedua genre populer di atas, perjalanan adalah situasi “menemukan diri sejatimu.” Dalam genre “man jadda wa jadda,” misalnya, walaupun kesuksesan diraih di negeri orang, “dirimu” bukanlah si anak hilang atau kacang lupa pada kulitnya. Namun siapakah “dirimu” dan faktor-faktor apa saja yang turut membentuknya? Di mana tempatmu di dunia yang semakin terhubungkan? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menuntut kita untuk menyelami dimensi perjalanan yang lebih carut-marut. Barangkali sudah waktunya kita menengok kembali karya para pengelana terdahulu. Karya-karya Nh. Dini, yang dulu sering disepelekan sebagai ‘genre perempuan,’ senantiasa mempertanyakan posisi etik dan politik warga dunia (citizen of the world). Kumpulan cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan karya Umar Kayam menggambarkan para tokoh yang tercerabut dan berusaha menghubungkan diri dengan lingkungan asing, meski upaya ini sering kali gagap dan gagal. Dalam Orang-orang Bloomington karya Budi Darma, kita melihat perspektif kosmopolitan yang eksentrik. Di kota Bloomington, jauh dari hingar-bingar New York, tokoh-tokoh OOB beraksi sebagai voyeur (pengintip) dan melakukan serentetan kekejian kecil demi menyiasati kesepian.

Karya para pengarang ini, meski sebagian tak luput dari nostalgia tanah air sebagai paradise lost, menghadapkan kita pada keseharian hidup perantau (dan pengelana): pahit, repot, gerah, lengket. Di dunia global hari ini, refleksi tentang perjalanan, di luar yang personal dan yang romantis, terasa makin genting. Bagaimana tangan-tangan tak terlihat menggerakkan, memindah-mindahkan, dan mendisiplinkan tubuh manusia? Kita perlu lebih jauh menjelajahi ruang di antara: antara paspor, representasi struktur yang mengatur keberadaan kita, dan romantisme perjalanan.

Mahmoud Darwish, penyair Palestina yang terusir dari tanah airnya, menulis: “They did not recognize me in the shadows/ that suck away my color in this Passport.” Paspor tak mengenali siapa yang kita cintai. Dokumen legal itu kaku dan banal, tapi ia menentukan apa yang bisa dan tidak bisa kita akses. Ada sekelompok orang yang menikmati “flexible citizenship” (mengutip Aihwa Ong), namun lebih banyak lagi mereka yang tergopoh-gopoh demi masuk pesawat kelas ekonomi. Pada paspor di tangan kita tergambar ketimpangan dunia. Dan ini hanya sekelumit dari beragam persoalan yang belum digali dalam narasi tentang perjalanan.

 

________________

 

Tulisan lain terkait novel Gentayangan