Gentayangan Buku Sastra Prosa Terbaik Tempo 2017

Novel Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu terpilih sebagai karya sastra bidang prosa terbaik pilihan Tempo 2017.

“… Namun, jika tujuan bacaan remaja itu dipersembahkan demi permainan sahaja, dalam prosa berjudul lengkap Gentayangan: pilih sendiri petualangan sepatu merahmu ini, permainan alur barulah satu di antara sekian banyak permainan susastra (baca: seni bercerita) yang telah dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendukung konsep gentayangan.”

Liputan selengkapnya:

Majalah Tempo, 15-21 Januari 2018




‘Gentayangan’ Takes Readers on Adventures to Question Identity and Belonging

Dhania Sarahtika | January 08, 2018 (photo by JG/ Dhania Sarahtika)

Jakarta. “Good girls go to heaven, bad girls go wandering,” is a recurring line in Intan Paramaditha’s latest book, “Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu” (“The Wandering: Choose Your Own Red-Shoe Adventure”).

The book was launched during the Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) in Bali during October and in Jakarta last month.

“Gentayangan” is an Indonesian term referring to the dead who, instead of proceeding to the hereafter, haunt the living. In Intan’s book, the word points to women tempted to cross geographical and social boundaries.

Intan’s wandering experience influenced the book, for she has trotted the globe all her life. After getting a doctorate from New York University in 2014, she started teaching at Sydney’s Macquarie University, returning to Jakarta occasionally.

Told from the second-person point of view, the story starts with an Indonesian woman in Jakarta who sleeps with the Devil in exchange for a favor. This nameless character wishes to travel, so the Devil leaves her a pair of red shoes, inspired by “The Wizard of Oz,” Hans Christian Andersen’s “The Red Shoes,” and Anne Sexton’s poem of the same title.

Intan has a knack for infusing horror in her work, like in her short-story collection “Sihir Perempuan” (“Black Magic Woman”) and “Kumpulan Budak Setan” (“The Devil’s Slave Club”), an anthology co-written by Ugoran Prasad and Eka Kurniawan. What is interesting, is that she often retells existing legends and fairytales from a feminist perspective.

In “Gentayangan,” the role of the Devil is not just to make the story subversive, or attach literal meaning to the idiom of “selling one’s soul to the Devil.”

The Devil provides a way for the main character to escape her mundane life. With a dead-end job as an English teacher, she can have neither physical, nor social mobility.

“The Devil is a way for her to cross her boundaries. Come to think of it; not everybody has a ‘devil.’ There are people who cannot get away from their physical or geographical location, so his existence represents the main character’s desperation for mobility,” Intan told the Jakarta Globe in a recent interview.

Multilayered Stories

The book comes in a “choose-your-own-adventure” format, enabling readers to explore different paths and endings. Readers stand in the main character’s shoes and take her to cities such as New York, Los Angeles, San Francisco, Amsterdam, Berlin and Tijuana.

The format provides space to address many issues.

The main character begins as a naive, opportunistic girl with wanderlust, but her adventures challenge her understanding of life. For example, she is an apolitical woman from a Muslim family. She never cared about what happened during the 1998 riots in Jakarta, which resulted in many ethnic Chinese people being tortured, raped and killed.

In one storyline, she meets a Chinese-Indonesian woman in Los Angeles who brings up the subject. Then the character remembers that her father hung a prayer mat over their front gate, implying that they were not the “enemy.”

“She realizes that there are many things in her past she never questioned. Problematic things. Hanging out a prayer mat basically meant excluding certain people,” Intan said.

After a visit to the Holocaust Museum, she also starts thinking about the 1965 mass killings and the demonization of Gerwani, the women’s organization of the Indonesian Communist Party (PKI).

Besides history, social status and the “American Dream” are also tackled here. The character originally aims to marry a rich American man who can help her obtain a green card, and she does get it in one storyline.

On the other hand, she marries Fernando, an illegal immigrant from Peru, who has been successful. When Donald Trump wins the election, she and Fernando decide to leave America for good instead of having a president known for his hostility towards immigrants.

“She and her husband shatter every idea of the American Dream. They decide they don’t have to be there to be happy and fulfilled,” Intan said.

Sometimes Intan blurs the line of the real and supernatural, as well as life and death. After visiting the grave of the shoemaker, the main character boards a train filled with famous dead people, such as Gertrude Stein, Josephine Baker and Amelia Earhart – women who traveled far from home.

Good vs. Bad?

Through the layers, the book invites readers to ponder the meaning of home and identity. In that case, what does it take to be a bad girl who goes wandering?

At a glance, the book seems to say that a bad girl does not conform to social and religious norms. The main character is often contrasted with her older sister, who owns a modest-wear business, actively shares religious content, and is married to a Muslim man who is the manager of a celebrity preacher.

Her sister is financially independent, yet she has to ask for her husband’s permission before making any decisions.

Intan admitted that she wanted to comment on the wave of conservatism and commodification of religion through the sister, but that does not mean that she is one-dimensional. The sister is opposed to polygamy and started wearing a hijab when it was still banned at schools during former President Suharto’s era, indicating her rebellious streak.

“I didn’t want to make a dichotomy or draw a bold line [between the main character and her sister], which says that the sister is normative and boring. She is willing to negotiate. These characters constantly negotiate with their surroundings and there are some points where the two agree with each other,” Intan said.

Wandering girls can be anyone, married or not, religious or not. The main character is not politically conscious at first. She uses marriage to elevate her socioeconomic status but learns about love and loss in each one. In another storyline, she rethinks her sexuality after encountering a female filmmaker.

This way, the book shows that such girls do not have to be conscious of what they are looking for, as long as they are brave enough to take the first step.

“The most important is the process itself, which leads you to be more critical. I think the main character represents many Indonesian women who just want to travel and not be bored. But all these adventures show her that there are things to be questioned, or lines to be crossed,” Intan said.

Perjalanan Perempuan Terkutuk yang Kosmopolit

Gilang Saputro, Jurnal Ruang

26 Januari 2018


Gentayangan bukanlah kisah hantu urban seperti yang belakangan terus muncul dengan berbagai tawaran “identitas” nya. Kita tidak akan menemukan setan yang terlalu menyeramkan, dukun penipu, dan Kiai yang gagal. Gentayangan juga bukan aktivitas paranormal atau hantu yang tiba-tiba muncul di jendela, mengerjai saat mandi, dan mendekap di petiduran atau di dalam lemari, arwah penasaran atau iblis yang merasuk dan mewujud sebagai anak kecil menyebalkan yang tidak mati-mati.

Gentayangan tidak tampak bersusah payah untuk menghadirkan tegangan-tegangan suspen, misal seperti ketika kita membaca Abdullah Harahap atau Patrick Süskind. Sebagai novel dengan model alur “pilih sendiri”. Gentayangan juga tidak seperti R.L. Stine yang membuat kita rela dikerjai untuk membolak-balik halaman, mengambil kaca, atau menerawang halaman dengan cahaya untuk sekadar menikmati bagian kisah seru yang sengaja ditulis terbalik. Sebagaimana dalam format memilih sendiri alur kisah, perjalanan yang seolah acak itu pada dasarnya mengisi fungsi sekuen yang logis. Pembaca akan mendapatkan pengalaman yang tidak jauh berbeda meskipun mengambil rute pengisahan yang berbeda. Tentu ada upaya agar pembaca memilih apa yang “diharapkan” oleh pengarang”. Tanpa menjalani peristiwa itu, pengalaman membaca tidaklah utuh, kita bisa saja kehilangan kesempatan untuk memahami semesta kisah.

Gentayangan adalah kisah perjalanan perempuan kosmopolit dengan banyak kemungkinan rute dan kejadian bercampur horor, mitologi, serta berbagai penafsiran baru kisah-kisah petualangan masa kecil. Narator akan memosisikan Saudara sebagai “kau” pembaca, dengan cara itu pembaca dibawa masuk sebagai si perempuan gentayangan. Bagi pembaca lelaki, ada waktu yang cukup untuk masuk dan membaca lebih dalam sebagai perempuan. Sepanjang perjalanan dengan banyak kemungkinan itu, narator tidak peduli apakah Saudara setuju atau tidak pada berbagai kebenaran yang diajukan, bisa jadi dia sok tahu.

Pandangan narator terhadap dunia, godaannya untuk melibatkan kita dalam semesta yang dia bangun serupa dengan Iblis. Bedanya, dia tidak sedang menguji iman. Bahwa kemudian Saudara menemukan berbagai cara pandang baru selama perjalanan, itu tidaklah lain adalah hadiah, sebagai penemuan identitas serta pemahaman baru terhadap dunia. Pada pemahaman itu, berbagai anggapan moral yang universal muncul seiring dengan identitas yang baru Saudara jumpai. Tetapi Saudara tidak perlu khawatir, dunia yang baru ternyata tidak begitu asing, semudah jatuh cinta.

Sasaran pembaca Gentayangan bukanlah anak-anak. Saudara tentu tidak akan menemukan kesenangan membaca cerita hantu, misteri dan petualangan seperti masa kecil: pembunuh di suatu perkemahan musim panas dengan perilaku para penyintasnya yang konyol dan dengan amanat sederhana bahwa persahabatan dan kebaikan akan menang. Meskipun begitu, dalam novel ini Saudara bisa saja menemukan sedikit kesenangan dalam perpaduan yang janggal antara Malin Kundang, Bajak laut, Cermin Ajaib, dan Dorothy dalam The Wizard of Ozsembari menyimak berbagai adegan bercinta yang spontan dan liar antara si Perempuan dan Iblis di makam Bertolt Brecht, atau dengan lelaki lain. Tetapi, apakah pembaca dewasa memang tidak benar-benar lagi butuh bersenang-senang?


Bertualang lewat “Gentayangan” Karya Intan Paramaditha

Balairung Press, 21 Januari 2018

“Beri aku uang, visa, dan tiket. Sekali jalan. Aku tak mau pulang,” ucap seorang perempuan kepada iblis, kekasihnya. Ia menginginkan petualangan, perjalanan yang seru, dan tidak mau menetap di Indonesia. Umurnya sudah 28 tahun dan sepanjang hidupnya ia belum pernah pergi ke luar negeri sama sekali. Setelah membuat perjanjian, perempuan tersebut bertualang ke berbagai tempat di seluruh negeri dengan sepatu merah pemberian iblis itu.

Kisah di atas merupakan penggalan dari novel “Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu” yang ditulis oleh Intan Paramaditha. Karya penulis kelahiran Bandung ini diluncurkan di Yogyakarta pada salah satu rangkaian acara “Buka Studio 7 Hari 7 Malam” yang diselenggarakan oleh Teater Garasi (18-01). Sebelumnya, buku ini telah diluncurkan di Jakarta dan Bali.

Dalam novel ini, Intan menggunakan sudut pandang orang kedua yang digambarkan dengan “kau” sebagai karakter utama novelnya. Tokoh ini adalah seorang perempuan kelas menengah yang bekerja sebagai guru bahasa inggris. Ia merasa bosan karena meski bekerja sebagai guru bahasa inggris, ia tidak pernah ke negara yang berbahasa inggris. “Novel ini bercerita tentang perempuan naif yang ingin melakukan petualangan. Untuk mewujudkan itu, ia bersekutu dengan iblis,” kata Intan.


Petualangan Surealis Sepatu Merah


Kompas, Sabtu, 30 Desember 2017

Asri Saraswati

Novel perdana Intan Paramaditha dimulai oleh narator yang menyapa pembaca dengan ”kau”. Seketika pembaca masuk ke dalam cerita sebagai tokoh utama, seorang gadisyang merasa terjebak dalam hidupnya di Jakarta.

Sang gadis lantas membuat perjanjian dengan Iblis demi mengabulkan impiannya: ”Satu-satunya yang kuinginkan adalah pergi dari sini dan bertualang. Beri aku uang, visa, dan tiket. Sekali jalan. Aku tak mau pulang” (halaman 4). Dengan sepasang sepatu merah pemberian Iblis, ”kau” bertualang ke berbagai tempat di dunia.

Buku ini menggunakan struktur ”pilih sendiri petualanganmu”, pola bercerita buku-buku dongeng 1990-an yang menggerakkan plot sesuai dengan pilihan pembaca. Tergantung pada pilihan yang diambil, narator menggiring kita ke New York, Berlin, San Francisco, Amsterdam, Tijuana, hingga ke kuburan di sebuah desa di Jawa Barat.

”Kau” berpapasan dengan beragam tokoh yang sama gentayangannya, mulai dari seorang gadis Belgia, jurnalis dari India, hingga pengungsi dari Palestina. Semua sama nomadennya dengan ”kau”, kerap berpindah dan gelisah karena tak mau (dan tak bisa) pulang.

Bebas bertualang

Dengan struktur ”pilih sendiri petualanganmu”, sepuluh kali membaca bisa berarti sepuluh pengalaman yang berbeda pula. Dengan struktur narasi ini, Gentayangan bercabang-cabang liar lewat pilihan pembacanya dan lewat berbagai alur yang Intan rajut dengan sabar dan piawai.

Sambil tetap menunjukkan keahliannya mendekonstruksi dongeng dan beralusi ke berbagai teks biblikal, sastra, dan sinema, Intan tampak menawarkan sebuah formula feminisme masa kini: perempuan harus bisa bebas memilih dan bertualang—sesuai dengan slogan yang terus diulang-ulang dalam novel, ”Cewek baik masuk surga, cewek bandel gentayangan”. Feminisme dan kosmopolitanisme pun berkelindan.

Namun, cepat atau lambat pembaca akan menyadari bahwa kebebasan dan kosmopolitanisme yang ditawarkan Gentayangan sifatnya paradoksal. Lewat kebebasan memilih plot, cengkeraman dan kehadiran penulis justru lebih
terasa. Intan seperti menghantui setiap langkah pembaca. Salah memilih, ”kau” merasa sesak dan terjebak dalam petualangan yang tak seperti bayangan sebelumnya dan ruang-ruang kota yang tak segemerlap foto-foto Instagram.

Setiap diarahkan ke halaman tertentu, pembaca harus melompati halaman-halaman yang sedang bercerita tentang petualangan berbeda dan lanskap yang seakan lebih menarik. Pembaca dibuat penasaran, adakah perjalanan yang lebih mengasyikkan di luar sana? Kita ingin berpindah rute, tetapi tak bisa.

Bagaimanapun ”gentayangan” berarti banyak hal: bebas berjalan-jalan, menghantui, atau justru dikutuk untuk selamanya terjebak dan tak berumah. Mungkin ini yang paling horor dalam karya Intan: terperangkap dalam labirin, petualangan yang semula tampak gemerlap berubah gelap dan sesak.


Pencinta horor yang memilih buku ini karena berharap akan ditakut-takuti harus siap kecewa. Di tangan Intan, genre horor tak pernah sekadar jadi alat untuk menakut-nakuti. Seakan pamungkas dari karya-karya Intan sebelumnya (kumpulan cerpen Sihir Perempuan dan antologi cerpen Kumpulan Budak Setan yang ditulis bersama Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad), kali ini horor versi Intan semakin jelas formulanya—tidak untuk membuat bergidik, tetapi mengganggu dan merusak semua yang dianggap sehari-hari dan normatif.

Dalam sebuah wawancara Intan berkata, ”Gangguan adalah kata kunci yang saya curi dari horor. Sebagai pembaca, saya tidak suka diceramahi; saya ingin diganggu.” (Jurnal Ruang, Oktober 2016)

Maka, Gentayangan mengganggu pembaca dengan menyinggung berbagai masalah sosial, seperti poligami, gerakan anti mengucapkan selamat Natal, institusi pernikahan, hingga peristiwa 1998 dan 1965 yang masih saja tak tuntas. Kegelisahan Intan akan semakin nyatanya konservatisme dan wajah baru otoritarianisme di Indonesia disampaikan lewat sarkasme dan humor yang gelap.

Tak pelak lagi, Intan sedang ”gentayangan” di antara sejumlah peran yang ia sedang mainkan: sebagai penulis, peneliti, dan akademisi feminis yang hidupnya (kebetulan) juga kerap berpindah-pindah. Saat ini, ia mengajar di Universitas Macquarie, Sydney.

Posisi Intan sebagai intelektual nomaden mengingatkan kita pada esai yang berjudul ”Intellectual Exile” karya Edward Said yang mengajukan konsep ”eksil metaforis” untuk menggambarkan kegelisahan permanen para intelektual yang dipaksa meninggalkan negaranya.

Said menulis, ”Karena eksil melihat segala sesuatu dalam dua cara, apa yang telah ditinggalkan dan apa yang sedang ada di hadapannya sekarang, ia berperspektif ganda, tak pernah melihat sesuatu dalam isolasi. Setiap kejadian di negara tempat ia tinggal sekarang membawanya untuk membayangkan kejadian serupa di negaranya dulu.” (1993, halaman 5)

Said berbicara tentang potensi seorang intelektual diaspora yang, seperti Intan, hidup di antara (in between) hingga mampu mencermati berbagai ruang sosial sekaligus. Yang mungkin luput terbahas oleh Said adalah keberjarakan intelektual diaspora dengan isu yang sedang dikritisinya. Bisakah ia menawarkan argumen yang menjejak ketika ia sendiri hidup di antara?

Lantas bagaimana membaca Gentayangan dalam tradisi sastra kita? Intan merujuk ke berbagai karya sastra dan film sepanjang novel ini. Akan tetapi, cara Gentayangan dalam mengedepankan karakter-karakter ganjil (dan sering kali nyata) di lokasi-lokasi riil, lalu mengemasnya secara fantastis dan surealis, mengingatkan kita pada karya-karya Budi Darma. Gentayangan juga tak hanya sedang meretas batas ruang, tetapi juga waktu dan dimensi.

Dalam petualangan liarnya, ”kau” kerap gamang, tak bisa pisahkan mimpi dan realitas, tak ingat waktu, tak tahu ia berada di mana, dan sedang berhadapan dengan siapa. Dari segi ini, Gentayangan seperti merujuk pada film 2001: A Space Odyssey (yang juga sempat disebut dalam novel) karya Stanley Kubrick— film kanon Hollywood produksi 1968 yang bercerita tentang kengerian dan ketersesatan ketika manusia dapat berkelana hingga ke luar angkasa. Baik Kubrick maupun Intan berkisah tentang horor ketika manusia tiba-tiba mampu bertualang, meretas batas, dan ketika mereka ”merasa” sedang bermain Tuhan.

Saat mulai membaca Gentayangan, saran untuk pembaca mungkin satu saja: serahkan nasibmu pada novel ini, jangan melawan.


ASRI SARASWATI, Kandidat PhD, Program Kajian Amerika, State University of New York at Buffalo