Intan Paramaditha’s ‘Gentayangan’ crosses many borders

TIFFANY TSAO

THE JAKARTA POST

Sydney | Mon, November 13, 2017 | 09:59 am

You yearn to travel, but never have. It’s too expensive, so you’re stuck here — in Indonesia, at your boring job teaching English, despite never having stepped foot in an English-speaking country. You’ve tried to find fulfillment in romance, but your boyfriends have all been losers.

Meanwhile, your sister’s doing well: she has a successful husband, two cute kids, and runs her own Islamic fashion business. That’s fine for her, but it’s not the life you want for yourself. Not at all.

What choice does a gal have but to cut a deal with the devil? So that’s exactly what you, the protagonist of Gentayangan, do.

Written in the style of a choose-your-own-adventure novel, Intan Paramaditha’s latest book sets you free to roam the earth, from New York, San Francisco and Los Angeles, all the way to Berlin, Amsterdam and Tijuana.

Take into account the panoply of racially and culturally diverse characters, not to mention the stories of their own wanderings, and the ground covered multiplies severalfold: Lebanon and India, the Philippines and Vietnam, Belgium and Peru — the list goes on and on.

Based on these details alone, it would be easy to mistake Gentayangan for an uncritical paean to cosmopolitanism and the liberty it grants. Yet that is precisely what Intan’s novel resists.

Besides the professors, journalists and expatriates who trot the globe freely are the refugees, illegal immigrants and impoverished students who find that border crossing comes with strings attached: homesickness and solitude; poverty and vulnerability; the threat of deportation, or conversely, being stranded.

Only when the reader dons the red shoes of global nomadism does she realize their blessing and curse. On the one hand, they empower, like Dorothy’s ruby slippers in The Wizard of Oz. On the other hand, they render the wearer powerless, like the red shoes of Hans Christian Andersen’s tale.

Continue reading

Intan Paramaditha Ajak Pembaca “Gentayangan”

AntaraNews, 29 Oktober 2017
Yashinta Difa
Pilih sendiri petualanganmu
 

Jika Anda pernah membaca serial “Choose Your Own Adventure” keluaran penerbit Amerika, Bantam Books, yang diterjemahkan ke Indonesia sebagai serial “Pilih Sendiri Petualanganmu” oleh Penerbit Gramedia, medio tahun 1980-an, maka Anda akan merasa cukup familiar dengan format yang diterapkan Intan dalam “Gentayangan”.

Format “pilih sendiri petualanganmu” itulah yang membedakan “Gentayangan” dengan novel lain. Kata ganti “kau” yang digunakan untuk merujuk pada si protagonis perempuan terasa sangat komunikatif saat dibaca.

Saat membaca karya ini pembaca diajak ikut bertualang bersama sepasang sepatu merah, membuat pilihan-pilihan dengan konsekuensi dan akhir cerita berbeda.

Di akhir setiap bab penulis menyediakan beberapa opsi seperti jika pembaca ingin membatalkan perjalanan dan kembali ke rumah di New York silakan buka halaman selanjutnya, tetapi pembaca bisa juga memilih meneruskan perjalanan ke Berlin dengan langsung meloncat ke halaman 33.

Total terdapat 11 plot dengan 15 akhir cerita berbeda yang bisa ditelusuri pembaca. Di halaman terakhir buku disediakan halaman khusus untuk memudahkan pembaca mencatat akhir cerita apa saja yang sudah ia tempuh.

Novel Intan Paramaditha ‘Gentayangan’ Rilis di UWRF 2017

Jumat, 27 Okt 2017 10:50 WIB  ·   Tia Agnes – detikHOT

Jakarta – Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2017 sedang berlangsung pekan ini di Ubud, Bali. Novel ‘Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu’ karya Intan Paramaditha pun diluncurkan di event bertaraf internasional tersebut pada Kamis (26/10) di Sri Ratih Cottages, Ubud.

Karya-karya Intan kerap mengolah dongeng dan genre horor untuk mengangkat persoalan gender, seksualitas, budaya, serta politik. Dalam keterangan pers yang diterima detikHOT, novel ‘Gentayangan’ menelusuri makna dari gentayangan yang tak hanya berarti jalan-jalan atau berkeliaran.

“Tapi juga diasosiasikan dengan hantu yang berada di antara dua dunia. Lebih dari itu, gentayangan dapat juga membicarakan tegangan antara rumah dan perjalanan, gagasan tentang akar dan tanah air, kosmopolitanisme, dan pergerakan manusia di tengah mencairnya batas negara dalam dunia global,” tutur Intan.

Novel ini mengisahkan tentang perjalanan dan ketercerabutan melalui format Pilih Sendiri Petualanganmu. Di dalamnya, pembaca akan membuat pilihan-pilihan dengan konsekuensi dan akhir cerita berbeda.

Petualangan terkutuk sepatu merah dapat membawa pembaca ke New York kota tikus, perbatasan Tijuana, gereja di Haarlem, masjid di Jakarta, ataupun di dalam taksi pengap atau kereta yang tak mau berhenti, tergantung jalan cerita mana yang mereka pilih.

Sebelumnya Intan dikenal oleh pembaca Indonesia lewat kumpulan cerpen ‘Sihir Perempuan’ Kata Kita 2005, Gramedia Pustaka Utama 2010), yang masuk nominasi pendek Khatulistiwa Literary Award 2005. Serta kumpulan cerita horor berjudul ‘Kumpulan Budak Setan’ ditulisnya bersama dengan Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad.

Beberapa karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman. Antologi cerpennya dalam bahasa Inggris, diterjemahkan oleh Stephen Epstein, akan diterbitkan oleh Brow Books, divisi penerbitan majalah sastra The Lifted Brow (2018). Karyanya yang lain adalah naskah pertunjukan teater Goyang Penasaran (Teater Garasi, 2011-2013).

Setelah peluncuran di Ubud, Intan Paramaditha juga dijadwalkan menjadi pembicara di Europalia Arts Festival di Brussel pada 20-21 November 2017 dan George Town Literary Festival, Penang, pada 24-26 November.

(tia/tia)

Perjalanan Interaktif lewat Novel Mistis

Sabtu, 28 October 2017 05:01 WIB

 Fathia Nurul Haq 

DI tengah bombardir promo tiket maskapai internasional bertarif murah, juga para travel vlogger yang membuat sensasi melancong sangat nyata, dan seolah-olah terjangkau, Intan Paramaditha dengan gagah berani mengangkat cerita kaum marginal dalam dunia travelista yang perlu bersekutu dengan iblis hanya agar dapat berkeliling dunia.

When Wandering the Globe Is a Feminist Choose-Your-Own Adventure

 

Concepts around travel and gender have been a focus of Intan for some time, so it’s no surprise they feature heavily in her debut novel. The Wandering bills itself as a novel about “travel and displacement, capturing those who are tempted by the edges, those in motion and paralyzed, those who flee and get caught.” You basically jump from section to section, making decisions that send you down a fork in the plot that introduce you to a cast of “travelers, tourists, migrants, all in their escape, border crossings, searches for home, routes, and emergency exits.”

Then you flip the book back to page one and start all over again.

***

But even though her book is about travel, and she’s expected to appear at the Ubud Writers and Readers Festival this week in the heart of Indonesia’s “find yourself” territory, Intan doesn’t believe in all that “get lost and rediscover yourself” bullshit. The whole notion smacks of white privilege and the kinds of inward-looking idleness that wealth can afford.

“Travel shouldn’t be an achievement,” she said. “I mean, what about those who can’t afford to ‘get lost’ in a faraway country?”

Continue reading