Comments | Komentar

This slideshow requires JavaScript.

 

“Intan selalui piawai mendefinisikan ulang kisah-kisah lama, tapi novel ini lebih dari itu. Gentayangan penuh dengan sarkasme tingkat tinggi untuk berbagai tradisi kesusastraan: dari kontrak dengan iblis ala Faust, memilih sendiri petualanganmu gaya bacaan di masa remaja, petualangan (gentayangan) Alice yang fantastis, bahkan hingga novel motivasional urban Jakarta. Sebuah lompatan yang sangat segar dalam kesusastraan kita.”
Eka Kurniawan, penulis

“Bacaan yang gelap sekaligus gemerlap. Intan Paramaditha sungguh jagoan dalam mengemas mistisisme supranatural kegemaran masyarakat Indonesia dalam bungkusan modern dengan perspektif yang progresif.  Seperti memberontak dari segala yang klise, karakter perempuan di sini tidak hadir sebagai objek layaknya kebanyakan cerita horor. Sebaliknya ia adalah saya, sang pembaca, yang menjadi subjek dalam petualangan dalam dunia Gentayangan. Bahkan kepada pembacanya, Intan memberi kebebasan untuk memilih jalannya sendiri dengan konsep ‘pilih petualanganmu’. Feminis dalam diri saya terbangun dan sangat terhibur membaca Gentayangan.”
Kartika Jahja, musisi, aktivis, feminis

“Buku ini hadiah. Buku ini kutukan. Kau tak bisa memilih selain bertualang dan berhati-hati agar tak tamat terlalu cepat: buku ini juga jebakan!
Membaca buku ini adalah merelakan dirimu bertualang–gentanyangan tepatnya–ke banyak tempat, ke banyak situasi yang barangkali membuatmu tak nyaman. Tapi kau akan merindukannya: berharap penculik itu datang kembali ke kamarmu.
Kau mungkin akan bertemu hantu yang paling menakutkan dalam buku ini: perempuan yang cerdas dan bebas.”
Gunawan Maryanto, penulis, aktor, sutradara

“Selama membaca Gentayangan, saya merasa dipertemukan (meskipun sendirinya diposisikan sebagai subyek dalam cerita) dengan perempuan-perempuan yang tak hanya berani tapi juga sadar atas posisinya di lokalitas-lokalitas yang global. Feminisme dan kosmopolitanisme terbingkai dalam narasi-narasi folkloris-kontemporer, yang hanya bisa ditulis oleh seorang intelektual perempuan kelas dunia yang berasal dari suatu tempat dengan sejarah bangsa serumit Indonesia.”
Leilani Hermiasih/ Frau, musisi, peneliti

“Juru kisah Gentayangan menyapa kita, pembaca, sebagai ‘kau’ dan menyilakan ‘kau’ duduk manis di depannya ketika ia menyampaikan sejumlah kisah yang ditulisnya. Ia membujuk (menggoda, memaksa) ‘kau’ untuk mengikuti atau tidak mengikuti apa yang disarankannya di setiap akhir bagian – ‘kau’pun diseret ke sana ke mari untuk menciptakan dongeng-dongeng-’mu’ sendiri. Dengan taraf penguasaan bahasa yang luar biasa tinggi ia menempatkan ‘kau’ kembali ke tradisi pratulis, mendengarkan dongeng-dongeng yang ‘kau’-pilih sendiri dengan bahasa yang, setelah mengalami proses teknologi, dicetak di lembaran-lembaran kertas. Sastra adalah cara menyampaikan, bukan apa yang disampaikan. Itu sebabnya Gentayangan adalah tonggak sangat penting dalam tradisi sastra kita.”
Sapardi Djoko Damono, penyair

 

Reviews

 

Gentayangan thus offers not only an incisive commentary on the cosmopolitan condition, it is also a literary vindication of the unashamedly unfettered female.” – Tiffany Tsao, The Jakarta Post 

“’Gentayangan’ berarti banyak hal: bebas berjalan-jalan, menghantui, atau dikutuk untuk selamanya terjebak dan tak berumah. Mungkin ini yang paling horor dalam karya Intan: terperangkap dalam labirin, petualangan yang semula tampak gemerlap berubah gelap dan sesak.”- Asri Saraswati, Kompas