Novel Gentayangan, Si Monster

Ugoran Prasad
1 November 2017

Aku tak ingat kapan ia benar-benar menguasai kediaman kami. Mulanya si #novelgentayangan muncul sejarang matahari musim dingin, sedapatnya menduduki sudut-sudut sempit di beranda, ruang tengah, kamar tidur, kamar mandi, seperti monster kecil yang manis dan tak mau mencuri terlalu banyak waktu, tenaga, perhatian kami. Tapi monster kecil bila disusui akan berubah jadi monster besar. Dan monster besar itu sudah monster, pula makan tempat. Kami dijepit ketiaknya megap-megap.

Aku menyaksikan hubungan si monster dengan puannya, Intan Paramaditha, kadang dengan cemburu yang melotot dan nyalang. Tapi kemudian penggalan-penggalannya mulai menyapaku pelan-pelan dan si monster itu ternyata cantik, menantang, mengajakku bertualang sekaligus membuatku mempertanyakan gagasan atas petualangan. Kali lain ia sadis, mengancam, menghunuskan pisau sampai keinginannya bisa kuturuti, kelananya tuntas kutemani.

Sebab aku ingin punya monsterku sendiri, hubunganku dengannya begitu pelik. Semakin besar pesona si monster semakin besar cemburuku pula. Semakin ia tumbuh semakin tak terbayang bagiku perihnya merawat monsterku sendiri. Tapi baiklah, jika seseorang harus melupakan (pun barang sesaat) niatnya merawat monsternya sendiri sebab silau cantik dan sadis monster milik orang lain, aku senang silau itu milik si monster #novelgentayangan.

Nah, tiba saatnya ia dilepas puannya keluar. Sejurus kemudian rumah kami dipenuhi lagu blues sarang lengang, tapi kebanyakan komposisinya belum berbentuk sehingga belum pantas diceritakan. Mengenai saat kepergian si monster, aku semula ingin menggambarkan situasinya seperti dalam potret keluarga ideal: bapak, ibu, dan kakak yang mengantar bocahnya keluar rumah di hari pertama sekolah. Tapi tak semulus itu. Bayangkan si monster, langkahnya berdentam besar-besar, tanah yang dipijaknya longsor, kakinya gugup dan limbung, pundaknya menabrak pohon, pohon tumbang, jatuh ke satu mobil di parkiran. Lalu bunyi alarm. Semula di satu mobil lalu serentak menular. Seluruh mobil di parkiran meraung-raung sember, cengeng, nyaring, genting.

Si monster panik, menutup telinga dengan kedua tangan, lalu berlari kencang-kencang. Begitu kencang, sehingga kedua matanya ia pejamkan dan gelap gagah berani ia terjang.

Jauh. Ia berlari sampai melewati jauh.

Tak berapa lama ia berhenti. Ia menoleh ke belakang dan tentu saja tak lagi terjangkar jalan pulang. Melihat ke kiri dan ke kanan, rupa-rupanya ia sampai di pasar.

Di pasar ada orang jual kembang gula warna warni.