Perempuan Petualang: “Been There, Done That.”

Saya menulis esai ini di tahun 2011 untuk Majalah Bung!, majalah pria yang digagas oleh ruangrupa dan terbit sebanyak 4 edisi. Saat itu saya diminta menulis tentang apa arti ‘perempuan petualang.’ Upaya saya mengkritisi ‘petualangan’ berkaitan erat dengan novel Gentayangan yang pada waktu itu sedang saya tulis serta petualangan/ ketercerabutan yang saya alami sendiri. Tentu saja, kalimat berulang dalam novel Gentayangan, “Cewek baik masuk surga, cewek bandel gentayangan,” menunjukkan keberpihakan saya pada perempuan yang berani bertanya, menolak, dan menyeberang, khususnya dalam konteks konservatisme yang makin mencekik di Indonesia sekarang. Namun, sebagaimana esai ini mengingatkan, pembahasan tentang wacana harus terus menimbang konteks: siapa yang memproduksi dan memutar gagasan, dan dalam narasi seperti apa gagasan itu muncul?

***

Perempuan Petualang: “Been There, Done That.

Intan Paramaditha, September 2011

Lewat obrolan saya dengan Redaktur majalah Bung! tentang petualangan, saya berhadapan dengan sejumlah pertanyaan yang telah dengan rajin dikumpulkan oleh tim Redaksi. Salah satu yang kerap terlontar adalah: “Mengapa predikat petualang dianggap sebagai suatu pencapaian bagi lelaki tetapi tidak demikian halnya bagi perempuan?”

Tapi, sebelum kita lanjutkan, petualangan macam apa yang akan kita bicarakan di sini? Agak sulit bagi saya untuk tidak melekatkan ‘petualangan’ dengan pengalaman tertentu — dalam kasus saya, merantau. Dalam kurun waktu enam tahun, saya telah berpindah dari Pantai Barat ke Pantai Timur Amerika, pulang ke Indonesia selama setahun dan pergi lagi, singgah dari satu rumah ke rumah lain (kalau mau dihitung, sudah sembilan kali saya pindah tempat tinggal). Saat menulis artikel ini, saya sedang berada di Jakarta sementara barang-barang rumah tangga menumpuk di sebuah gudang di New York, dan saat majalah ini diterbitkan, saya sedang berada di Amsterdam. Hidup saya adalah serial mengemasi dan membongkar koper. Di antara itu ada tabungan yang dihabiskan di –dan demi — perjalanan; ada tetek bengek administratif yang harus dilakukan (halo birokrasi!); ada penantian di kedutaan asing maupun di bandara yang kini terasa seperti terminal bus. Saya merasa beruntung karena petualangan telah memperkaya pandangan saya tentang ruang dan batas negara, namun saat terlalu lelah dengan ruwetnya upaya berkemas dan berpindah, saya kerap berkata pada diri saya sendiri: Petualangan? Yeah, right.

Saya ingin sekali melanjutkan cerita suka-duka bertualang sebagai kosmopolitan kelas teri yang diputar oleh modal global, namun sayangnya, saya harus berbelok. Berdasarkan pertanyaan yang dikumpulkan oleh tim Redaksi, sepertinya orang lebih tertarik bicara tentang petualang seksual ketimbang spasial. Saya juga menangkap keingintahuan besar tentang aspek gender dalam petualangan seksual, terangkum dalam frase ‘perempuan petualang’ yang muncul berkali-kali. Pertanyaan terkait yang kemudian saya dengar adalah: “Apakah laki-laki yang memacari perempuan petualang diam-diam punya hasrat menjinakkannya?”

Saya tak bisa membaca pikiran semua laki-laki, maka saya tak tahu jawabannya. Akan tetapi, tulisan ini akan merespon kegelisahan sekaligus antusiasme atas frase ‘perempuan petualang.’ Suara saya tak cukup representatif untuk bicara tentang praktik petualangan seksual yang tentunya amat beragam. Namun saya memutuskan untuk tak berfokus pada praktik, melainkan gagasan. Gagasan tentang petualangan cinta/seks, baik dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan, punya kemiripan dengan gagasan tentang perantauan yang saya hadirkan di awal. Keduanya sama-sama tertambat pada narasi ‘been there, done that’ yang sifatnya seperti lagu dangdut “Sepiring Berdua”: romantis. Keduanya juga punya hubungan yang ambivalen dengan ‘rumah,’ atau apa-apa yang dibayangkan stabil dan aman.

 

Daya Tarik Perempuan Petualang

Mengapa perempuan petualang?

Pertanyaan-pertanyaan yang terbersit di benak saya, secara lebih spesifik, adalah: Mengapa orang ingin mendengar tentang perempuan petualang? Mengapa Redaksi Bung!, yang sebagian besar lelaki, tertarik untuk mengangkat tema ini untuk dibagi bersama pembacanya (yang dibayangkan juga lelaki)? Apakah tulisan tentang peran perempuan yang lain – ibu, misalnya – akan kalah menarik di mata lelaki? Bisakah kita membayangkan ibu kita sebagai perempuan petualang? Barangkali tidak. Sebab sebagaimana seluruh proyek penamaan membutuhkan demarkasi, gagasan tentang ‘perempuan petualang’ di kepala banyak orang punya batasan.

Namun sebelum membahas soal pentingnya batasan agar suatu gagasan tetap menggairahkan, ada baiknya kita menyepakati unsur-unsur dasar yang menjadikan seseorang ‘perempuan petualang.’ Berdasarkan obrolan saya dengan Redaksi, ternyata bayangan tentang ‘perempuan petualang’ agak sulit disatukan. Definisinya bisa mencakup banyak hal, misalnya perempuan yang dengan mudah berganti pasangan, atau perempuan memiliki banyak pacar atau beberapa hubungan yang tidak eksklusif. Tapi yang disepakati banyak orang dan ingin saya garisbawahi di sini adalah aspek keberanian mengambil risiko; perempuan petualang sangat menyadari seksualitasnya dan tak segan memenuhi hasratnya dengan cara apapun meski itu berbahaya.

Dimensi gender dari petualangan terkait dengan bagaimana pengetahuan tentang apa yang dianggap sukses, pantas, maupun bergengsi diproduksi dalam kerangka patriarki sejak kita kecil. Remaja laki-laki harus bandel untuk membedakan dirinya dengan perempuan. Remaja perempuan yang menjadi juara kelas dan disayangi guru disikapi sebagai kewajaran, sebab mereka memang dilatih untuk menjadi anak rajin dan konformis. Tapi menjadi rajin dan konformis bukan pencapaian maskulin. Lelaki tulen tidak ingin, bukan tidak bisa menjadi juara kelas. Ia harus melakukan eksperimen di luar, bukan membaca buku di kamar. Petualangan – gerak keluar untuk secara frontal berhadapan dengan sejumlah eksperimen dan pilihan — adalah salah satu unsur penting dalam proses menjadi laki-laki. Sementara itu, perempuan diharapkan menunggu yang terbaik, kemudian menyetiai yang terbaik yang bisa ia dapatkan.

Namun seperti juga sistem nilai lainnya, patriarki tak berdiam di satu titik. Ia terus berubah. Hanya karena wajahnya tak sama dengan lima puluh tahun lalu, bukan berarti ia tak hadir. Dulu, batas yang membedakan antara perempuan ideal – manis, setia, dan senang mengerjakan urusan domestik – dan mereka yang bukan ‘perempuan baik-baik’ terasa lebih tegas. Mungkin hanya lelaki sinting seperti Severin dalam novel Leopold von Sacher-Masoch, Venus in Furs (1870), yang tergila-gila pada perempuan petualang. Dalam novella Sacher-Masoch, Severin adalah seorang masokis (dari kata “Masoch” tentunya) yang rela diperbudak oleh Wanda, seorang perempuan tiran yang menyiksanya secara fisik dan mental, termasuk memacari lelaki lain di depan hidungnya. Tetapi bahkan lelaki langka seperti Severin pun di akhir cerita ‘sembuh’ dari kesintingannya dan menjalani hidup secara ‘rasional,’ suatu penyelesaian yang bisa kita baca sebagai strategi Sacher-Masoch untuk berkompromi dengan norma-norma masyarakat umum di zaman itu.

Di masa sekarang, khususnya dalam konteks masyarakat urban kelas menengah, saya kira lelaki tak perlu merasa ‘sakit’ jika ia berhasrat pada perempuan petualang. Bahkan sebaliknya, hasrat itu dipahami dan diterima secara sosial berdasarkan sederetan referensi glamor, dari petualang dalam arti cewek jagoan seperti Angelina Jolie sebagai Lara Croft hingga femme fatale seperti Sharon Stone di film Basic Instinct. Kita ingin mendengar tentang perempuan petualang sebab ia seksi. Risiko yang harus ditempuh dalam berhubungan dengan perempuan petualang memicu adrenalin lelaki (yang, dalam budaya patriarki, dikonstruksi menyenangi tantangan). Jika Anda diminta memilih yang mana yang akan dijadikan pacar, perempuan berkaos Teddy Bear yang senang anak-anak atau perempuan penakluk yang kemungkinan akan mencampakkan Anda karena ia bisa mendapatkan lelaki manapun, mungkin Anda akan memilih yang kedua, demi sensasi bahaya. Dan mungkin diam-diam Anda juga tahu, cerita tak berakhir di sana.

 

Fantasi Romantis Kita Semua

Ketimbang dihujat, hasrat atas perempuan petualang dalam konteks urban kelas menengah kontemporer justru dibiarkan tumbuh dan dipelihara dengan baik. Yang saya maksud ‘dipelihara dengan baik’ adalah bahwa ada batasan-batasan yang dibuat agar gagasan tetap aman di tempatnya. Sebagai contoh, imajinasi tentang perempuan petualang selalu membutuhkan referensi tentang standar kecantikan tertentu, dengan orientasi seksual tertentu pula. Ketika muncul pertanyaan soal laki-laki yang ingin menjinakkan perempuan, ada asumsi heteronormatif yang beroperasi. Perempuan petualang dibayangkan menginginkan lelaki, bukan seorang lesbian. Kita juga percaya bahwa perempuan macam ini menarik secara seksual, karena bila tidak, ia tak akan punya modal untuk menggaet sekian banyak lelaki. Perempuan petualang buruk rupa barangkali hanya ada dalam fiksi.

Perempuan petualang seksi karena ia sadar betul akan kekuatan seksualitasnya. Aspek radikal ini, dengan cara yang mungkin tak terduga, mempertemukan lelaki – para pecinta, pemuja, sekaligus korban si perempuan petualang – dengan para feminis. Bagi banyak kritikus feminis, perempuan petualang sering kali merupakan figur femme fatale yang patut dirayakan karena ia mendobrak nilai-nilai konservatif tentang gender dan seksualitas dalam berbagai institusi, baik keluarga, hukum, ataupun agama. Tapi apakah kita bisa secara otomatis mengatakan bahwa perempuan petualang adalah seorang feminis? Sampai di sini, mungkin banyak lelaki yang tidak sepakat. Feminisme bukanlah kata yang seksi; ia kerap diasosiasikan dengan perempuan pemarah, bermuka jelek, dan — karena tidak laku — anti laki-laki. Setidaknya inilah stereotip yang sering disampaikan kepada saya, seorang feminis, oleh beberapa teman lelaki. Perempuan petualang memamerkan lingerie Victoria’s Secret yang membuat lelaki berdebar-debar, sementara feminis adalah perempuan-perempuan tak menarik yang membakar kutang di tahun 60-an (maka apakah kutang dibakar atau tidak, tak jadi soal, sebab yang ditutupi juga tak dianggap bagus-bagus amat).

Variasi praktik ‘petualangan’ tak bisa digeneralisasi. Ada lesbian yang beralih dari perempuan satu ke perempuan lainnya. Mungkin ada pula nenek-nenek yang memiliki banyak pacar. Alasannya tak bisa disederhanakan menjadi, misalnya, trauma. Namun di luar beragam praktiknya, gagasan tentang perempuan petualang, menurut saya, kerap diromantisasi dan dibersihkan dari ekses yang membuatnya jauh dari seksi. Contoh-contoh yang saya ungkap sebelumnya menggarisbawahi bagaimana perspektif maskulin beroperasi dalam proyek idealisasi perempuan petualang. Saya pun bertanya-tanya mengapa, saat kata petualangan muncul, saya tak mendengar kata ‘tersesat,’ yang merupakan konsekuensi dari petualangan.  Apakah kalimat “saya memacari perempuan petualang” terdengar lebih keren ketimbang “saya memacari perempuan tersesat”? ‘Perempuan tersesat’ tak terdengar otoritatif; bisa jadi ia bersama Anda hanya karena galau sesaat, atau sekadar tolol. Lalu di mana batas antara situasi bertualang dan tersesat, dan siapa yang menentukannya? Frase ‘perempuan petualang’ sesungguhnya lebih banyak mengungkap siapa yang memberi label ketimbang keberadaan perempuan itu sendiri.

Saya tidak mengatakan bahwa gagasan ini sepenuhnya fantasi laki-laki, sebab ia juga menarik bagi banyak perempuan. Saya ingat, di awal kuliah S1 dulu, beberapa teman perempuan saya gemar sekali membaca cerita roman picisan Mills & Boon. Cerita-cerita macam itu menawarkan fantasi seks yang bisa ditebak: si protagonis perempuan –biasanya perempuan baik-baik — digoda oleh lelaki petualang yang akhirnya jatuh cinta dan menjadikan perempuan itu yang terakhir dalam hidupnya. Norak memang, tapi waktu itu tak banyak pilihan. Setelah ada Sex and the City, tentunya kawan-kawan perempuan saya yang berpendidikan lebih punya ruang untuk mengidentifikasikan diri mereka dengan karakter-karakter perempuan sukses di New York. Sex and the City menawarkan citra perempuan urban yang lebih hip: punya karier, uang, dan laki-laki. Lajang di usia 30-an bukan masalah, melainkan opsi yang lebih terbuka dalam hubungan (hetero)seksual. Sejak itu makin banyak teman saya yang memirip-miripkan diri dengan Carrie. Si genit Samantha membuat gagasan tentang perempuan petualang terlihat lebih mudah diterima, juga menyenangkan untuk dijalani. Ia lajang, sukses, menarik, punya kendali penuh atas seksualitasnya, dan mampu mendapatkan lelaki manapun yang ia inginkan.

Saya bukan penggemar Sex and the City, namun saya bisa melihat daya tarik petualangan seks Samantha dengan cara yang sama seperti saya melihat pengalaman seorang perantau. Di dalamnya ada kegirangan memulai hal baru. Ada pula ketidakpastian sekaligus keberanian dalam mengambil risiko untuk mendapatkan sesuatu, atau melepaskannya. Secara praktis, sangat tidak menyenangkan bahwa sebagai perantau, saya selalu punya masalah dengan keterikatan atas benda. Setiap kali membeli barang, saya selalu dihantui pertanyaan bagaimana menyingkirkannya kalau saya pindah. Perpindahan yang terus-menerus menuntut kita untuk tega membuang. Tapi membuang sesuatu (dan mungkin menyesalinya kemudian) – baik itu berupa sofa, lemari buku, atau laki-laki – memberi kita keistimewaan untuk bernostalgia tentang hari-hari yang tak lagi hadir, tentang kesempatan yang kita lewatkan, tentang keberanian kita menjalani itu semua. Narasi “been there, done that” memang romantis, kalau bukan heroik.

 

Rumah: Narasi yang Tertunda

I’ve been undressed by kings/ And I’ve seen some things that a woman’s not supposed to see/ I’ve been to paradise/ But I’ve never been to me

 

Saya selalu terganggu dengan lirik lagu lama dari Charlene, “Never Been To Me,” namun biarlah saya kutip di sini karena di dalamnya ada dua narasi yang terus muncul dalam cerita petualangan: cerita tentang apa-apa yang pernah dilakukan dan bayangan tentang rumah. Si “aku” (perempuan) dalam lagu ini bercerita pada “kamu” – pendengarnya, diposisikan sebagai ibu dan istri yang jenuh dengan kehidupan domestik – tentang tempat-tempat yang ia kunjungi maupun laki-laki yang ia tiduri. Ia bernostalgia tentang pengalaman ‘been there, done that,’ namun seluruh petualangan itu diakhiri dengan pesan moral bahwa keasyikan bertualang hanya menghasilkan “aku” yang hampa; tak sebanding dengan kebahagiaan di wilayah domestik: ‘rumah.’

Saya tak punya rumah. Saya tak berpikir untuk menginvestasikan uang saya dalam bentuk rumah, sebab saya enggan terikat pada tempat di mana rumah itu didirikan. Saya bahkan tak punya kepastian di mana saya akan tinggal dua tahun mendatang. Ketidakpastian, seperti yang saya ungkap sebelumnya, memang mendebarkan. Ancaman yang dihadirkannya buat saya jadi benar-benar seksi, apalagi karena semasa remaja dulu sebagai perempuan saya diajari untuk membuat pilihan-pilihan aman (khususnya dalam soal pekerjaan – saya cukup beruntung punya ibu yang tak peduli soal jodoh anaknya). Penolakan atas rumah adalah bagian dari paket keasyikan bertualang, sebab rumah mengindikasikan apa-apa yang tetap, terpaku, terhenti.

Namun di sini saya harus mencurigai rumah yang saya negasikan demi membuat perantauan bermakna, dan saya kira kecurigaan ini juga patut dikenakan pada petualangan seksual. Apakah kita benar-benar menolak stabilitas, atau apakah kita hanya menundanya untuk dibangkitkan kemudian? Pada kenyataannya, ‘rumah’ – tak hanya dalam pengertian tempat, tetapi gagasan pulang, bernaung, menjejakkan kaki — selalu hadir dan menghantui setiap gagasan petualangan. Ia dapat hadir secara ambivalen sebagai retakan, seperti ketika saya capek dengan momen berada di antara ruang dan menginginkan titik stabil: ‘rumah.’ Petualangan dan ‘rumah’ kerap menjadi biner – antara yang berbahaya dan yang aman – padahal barangkali rumah adalah tempat yang tak sepenuhnya bisa kita kenali dan genggam.

Dalam banyak kasus, dikotomi petualangan vs. ‘rumah’ hadir sebagai keinginan yang utuh atas suatu penutup (closure) dari narasi, seberapapun jauh jaraknya dengan plot yang tengah berjalan. Dari teman-teman lelaki saya yang mengaku brengsek (dengan kebanggaan tertentu) karena petualangan seksual yang mereka sedang atau pernah lakukan, saya sering mendapatkan cerita ‘been there, done that’ yang secara linear berakhir dengan keinginan untuk ‘pulang’ dan membentuk keluarga dengan seorang istri setia beserta anak-anak manis. Gagasan atas ‘rumah’ menentukan perempuan mana yang cocok untuk hubungan temporal dan yang mana materi untuk dikawini. Dalam banyak kasus pula, ‘rumah’ telah dibangun, namun petualangan dengan perempuan terus berlanjut. Yang terpenting adalah tempat berpulang, dengan seorang perempuan yang merawatnya. Demikianlah narasi ideal mereka yang menyebut diri brengsek, meski saya lebih suka istilah brengsek konservatif.

Dalam kasus perempuan petualang, konstruksi gender cenderung menjadikan gagasan atas rumah lebih keras. Kita tahu, serial televisi Sex and the City berakhir dengan ‘kepulangan’ tiap karakter. Gagasan seksi tentang “perempuan petualang” harus ditutup dengan manis lewat modus Cinderella: semua karakter menemukan lelaki yang tepat untuk berlabuh. Sebab ‘rumah’ terus disosialisasikan sebagai aspirasi terbesar perempuan, gagasan maskulin ‘menjinakkan perempuan petualang’ jadi punya ruang.

Jika kita memetakan keseluruhan narasi dan batas-batas yang kita tarik agar narasi itu tetap menarik, kemungkinan ‘perempuan petualang,’ seperti halnya ‘lelaki petualang,’ bukan gagasan yang sepenuhnya rawan. Bahkan bisa dikatakan karena kita terus berupaya mendomestifikasi kerawanannya, maka ia jadi romantis. Dalam konteks seksualitas atau yang lebih luas, ‘petualangan’ adalah konstruksi yang perlu dipertanyakan, baik oleh lelaki maupun perempuan. Ini bukan soal apakah sebuah petualangan valid atau tidak, tetapi bagaimana petualangan membuka ruang untuk terus melakukan kritik atas pilihan yang kita ambil dan persepsi yang kita kenakan.

 

______________________

 

Tulisan lain terkait novel Gentayangan