Perjalanan Perempuan Terkutuk yang Kosmopolit

Gilang Saputro, Jurnal Ruang

26 Januari 2018

 

Gentayangan bukanlah kisah hantu urban seperti yang belakangan terus muncul dengan berbagai tawaran “identitas” nya. Kita tidak akan menemukan setan yang terlalu menyeramkan, dukun penipu, dan Kiai yang gagal. Gentayangan juga bukan aktivitas paranormal atau hantu yang tiba-tiba muncul di jendela, mengerjai saat mandi, dan mendekap di petiduran atau di dalam lemari, arwah penasaran atau iblis yang merasuk dan mewujud sebagai anak kecil menyebalkan yang tidak mati-mati.

Gentayangan tidak tampak bersusah payah untuk menghadirkan tegangan-tegangan suspen, misal seperti ketika kita membaca Abdullah Harahap atau Patrick Süskind. Sebagai novel dengan model alur “pilih sendiri”. Gentayangan juga tidak seperti R.L. Stine yang membuat kita rela dikerjai untuk membolak-balik halaman, mengambil kaca, atau menerawang halaman dengan cahaya untuk sekadar menikmati bagian kisah seru yang sengaja ditulis terbalik. Sebagaimana dalam format memilih sendiri alur kisah, perjalanan yang seolah acak itu pada dasarnya mengisi fungsi sekuen yang logis. Pembaca akan mendapatkan pengalaman yang tidak jauh berbeda meskipun mengambil rute pengisahan yang berbeda. Tentu ada upaya agar pembaca memilih apa yang “diharapkan” oleh pengarang”. Tanpa menjalani peristiwa itu, pengalaman membaca tidaklah utuh, kita bisa saja kehilangan kesempatan untuk memahami semesta kisah.

Gentayangan adalah kisah perjalanan perempuan kosmopolit dengan banyak kemungkinan rute dan kejadian bercampur horor, mitologi, serta berbagai penafsiran baru kisah-kisah petualangan masa kecil. Narator akan memosisikan Saudara sebagai “kau” pembaca, dengan cara itu pembaca dibawa masuk sebagai si perempuan gentayangan. Bagi pembaca lelaki, ada waktu yang cukup untuk masuk dan membaca lebih dalam sebagai perempuan. Sepanjang perjalanan dengan banyak kemungkinan itu, narator tidak peduli apakah Saudara setuju atau tidak pada berbagai kebenaran yang diajukan, bisa jadi dia sok tahu.

Pandangan narator terhadap dunia, godaannya untuk melibatkan kita dalam semesta yang dia bangun serupa dengan Iblis. Bedanya, dia tidak sedang menguji iman. Bahwa kemudian Saudara menemukan berbagai cara pandang baru selama perjalanan, itu tidaklah lain adalah hadiah, sebagai penemuan identitas serta pemahaman baru terhadap dunia. Pada pemahaman itu, berbagai anggapan moral yang universal muncul seiring dengan identitas yang baru Saudara jumpai. Tetapi Saudara tidak perlu khawatir, dunia yang baru ternyata tidak begitu asing, semudah jatuh cinta.

Sasaran pembaca Gentayangan bukanlah anak-anak. Saudara tentu tidak akan menemukan kesenangan membaca cerita hantu, misteri dan petualangan seperti masa kecil: pembunuh di suatu perkemahan musim panas dengan perilaku para penyintasnya yang konyol dan dengan amanat sederhana bahwa persahabatan dan kebaikan akan menang. Meskipun begitu, dalam novel ini Saudara bisa saja menemukan sedikit kesenangan dalam perpaduan yang janggal antara Malin Kundang, Bajak laut, Cermin Ajaib, dan Dorothy dalam The Wizard of Ozsembari menyimak berbagai adegan bercinta yang spontan dan liar antara si Perempuan dan Iblis di makam Bertolt Brecht, atau dengan lelaki lain. Tetapi, apakah pembaca dewasa memang tidak benar-benar lagi butuh bersenang-senang?

Selanjutnya