Petualangan Surealis Sepatu Merah

 

Kompas, Sabtu, 30 Desember 2017

Asri Saraswati

Novel perdana Intan Paramaditha dimulai oleh narator yang menyapa pembaca dengan ”kau”. Seketika pembaca masuk ke dalam cerita sebagai tokoh utama, seorang gadisyang merasa terjebak dalam hidupnya di Jakarta.

Sang gadis lantas membuat perjanjian dengan Iblis demi mengabulkan impiannya: ”Satu-satunya yang kuinginkan adalah pergi dari sini dan bertualang. Beri aku uang, visa, dan tiket. Sekali jalan. Aku tak mau pulang” (halaman 4). Dengan sepasang sepatu merah pemberian Iblis, ”kau” bertualang ke berbagai tempat di dunia.

Buku ini menggunakan struktur ”pilih sendiri petualanganmu”, pola bercerita buku-buku dongeng 1990-an yang menggerakkan plot sesuai dengan pilihan pembaca. Tergantung pada pilihan yang diambil, narator menggiring kita ke New York, Berlin, San Francisco, Amsterdam, Tijuana, hingga ke kuburan di sebuah desa di Jawa Barat.

”Kau” berpapasan dengan beragam tokoh yang sama gentayangannya, mulai dari seorang gadis Belgia, jurnalis dari India, hingga pengungsi dari Palestina. Semua sama nomadennya dengan ”kau”, kerap berpindah dan gelisah karena tak mau (dan tak bisa) pulang.

Bebas bertualang

Dengan struktur ”pilih sendiri petualanganmu”, sepuluh kali membaca bisa berarti sepuluh pengalaman yang berbeda pula. Dengan struktur narasi ini, Gentayangan bercabang-cabang liar lewat pilihan pembacanya dan lewat berbagai alur yang Intan rajut dengan sabar dan piawai.

Sambil tetap menunjukkan keahliannya mendekonstruksi dongeng dan beralusi ke berbagai teks biblikal, sastra, dan sinema, Intan tampak menawarkan sebuah formula feminisme masa kini: perempuan harus bisa bebas memilih dan bertualang—sesuai dengan slogan yang terus diulang-ulang dalam novel, ”Cewek baik masuk surga, cewek bandel gentayangan”. Feminisme dan kosmopolitanisme pun berkelindan.

Namun, cepat atau lambat pembaca akan menyadari bahwa kebebasan dan kosmopolitanisme yang ditawarkan Gentayangan sifatnya paradoksal. Lewat kebebasan memilih plot, cengkeraman dan kehadiran penulis justru lebih
terasa. Intan seperti menghantui setiap langkah pembaca. Salah memilih, ”kau” merasa sesak dan terjebak dalam petualangan yang tak seperti bayangan sebelumnya dan ruang-ruang kota yang tak segemerlap foto-foto Instagram.

Setiap diarahkan ke halaman tertentu, pembaca harus melompati halaman-halaman yang sedang bercerita tentang petualangan berbeda dan lanskap yang seakan lebih menarik. Pembaca dibuat penasaran, adakah perjalanan yang lebih mengasyikkan di luar sana? Kita ingin berpindah rute, tetapi tak bisa.

Bagaimanapun ”gentayangan” berarti banyak hal: bebas berjalan-jalan, menghantui, atau justru dikutuk untuk selamanya terjebak dan tak berumah. Mungkin ini yang paling horor dalam karya Intan: terperangkap dalam labirin, petualangan yang semula tampak gemerlap berubah gelap dan sesak.

Horor

Pencinta horor yang memilih buku ini karena berharap akan ditakut-takuti harus siap kecewa. Di tangan Intan, genre horor tak pernah sekadar jadi alat untuk menakut-nakuti. Seakan pamungkas dari karya-karya Intan sebelumnya (kumpulan cerpen Sihir Perempuan dan antologi cerpen Kumpulan Budak Setan yang ditulis bersama Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad), kali ini horor versi Intan semakin jelas formulanya—tidak untuk membuat bergidik, tetapi mengganggu dan merusak semua yang dianggap sehari-hari dan normatif.

Dalam sebuah wawancara Intan berkata, ”Gangguan adalah kata kunci yang saya curi dari horor. Sebagai pembaca, saya tidak suka diceramahi; saya ingin diganggu.” (Jurnal Ruang, Oktober 2016)

Maka, Gentayangan mengganggu pembaca dengan menyinggung berbagai masalah sosial, seperti poligami, gerakan anti mengucapkan selamat Natal, institusi pernikahan, hingga peristiwa 1998 dan 1965 yang masih saja tak tuntas. Kegelisahan Intan akan semakin nyatanya konservatisme dan wajah baru otoritarianisme di Indonesia disampaikan lewat sarkasme dan humor yang gelap.

Tak pelak lagi, Intan sedang ”gentayangan” di antara sejumlah peran yang ia sedang mainkan: sebagai penulis, peneliti, dan akademisi feminis yang hidupnya (kebetulan) juga kerap berpindah-pindah. Saat ini, ia mengajar di Universitas Macquarie, Sydney.

Posisi Intan sebagai intelektual nomaden mengingatkan kita pada esai yang berjudul ”Intellectual Exile” karya Edward Said yang mengajukan konsep ”eksil metaforis” untuk menggambarkan kegelisahan permanen para intelektual yang dipaksa meninggalkan negaranya.

Said menulis, ”Karena eksil melihat segala sesuatu dalam dua cara, apa yang telah ditinggalkan dan apa yang sedang ada di hadapannya sekarang, ia berperspektif ganda, tak pernah melihat sesuatu dalam isolasi. Setiap kejadian di negara tempat ia tinggal sekarang membawanya untuk membayangkan kejadian serupa di negaranya dulu.” (1993, halaman 5)

Said berbicara tentang potensi seorang intelektual diaspora yang, seperti Intan, hidup di antara (in between) hingga mampu mencermati berbagai ruang sosial sekaligus. Yang mungkin luput terbahas oleh Said adalah keberjarakan intelektual diaspora dengan isu yang sedang dikritisinya. Bisakah ia menawarkan argumen yang menjejak ketika ia sendiri hidup di antara?

Lantas bagaimana membaca Gentayangan dalam tradisi sastra kita? Intan merujuk ke berbagai karya sastra dan film sepanjang novel ini. Akan tetapi, cara Gentayangan dalam mengedepankan karakter-karakter ganjil (dan sering kali nyata) di lokasi-lokasi riil, lalu mengemasnya secara fantastis dan surealis, mengingatkan kita pada karya-karya Budi Darma. Gentayangan juga tak hanya sedang meretas batas ruang, tetapi juga waktu dan dimensi.

Dalam petualangan liarnya, ”kau” kerap gamang, tak bisa pisahkan mimpi dan realitas, tak ingat waktu, tak tahu ia berada di mana, dan sedang berhadapan dengan siapa. Dari segi ini, Gentayangan seperti merujuk pada film 2001: A Space Odyssey (yang juga sempat disebut dalam novel) karya Stanley Kubrick— film kanon Hollywood produksi 1968 yang bercerita tentang kengerian dan ketersesatan ketika manusia dapat berkelana hingga ke luar angkasa. Baik Kubrick maupun Intan berkisah tentang horor ketika manusia tiba-tiba mampu bertualang, meretas batas, dan ketika mereka ”merasa” sedang bermain Tuhan.

Saat mulai membaca Gentayangan, saran untuk pembaca mungkin satu saja: serahkan nasibmu pada novel ini, jangan melawan.

 

ASRI SARASWATI, Kandidat PhD, Program Kajian Amerika, State University of New York at Buffalo