Prolog

PROLOG:
IBLIS KEKASIH

 

Jangan sembarang menerima pemberian, demikian nasihat orang-orang tua dulu, tapi kau telanjur meminta paket itu: hadiah sekaligus kutukan. Iblis Kekasih telah memberimu sepasang sepatu merah.

***

Iblis Kekasih mendatangimu saat kau ingin lari. Seperti malam-malam sebelumnya, kau merasa kaki dan tanganmu terikat di tempat tidur. Mulutmu terbungkam meski kau berharap kupingmu yang tersumpal, dan, sialnya, ketimbang menolak kedap ia malah mendesakkan seluruh getar ke gendang telingamu, menjejalkannya ke jejaring pembuluh darahmu yang berangsur kebal diserbu histeris suara televisi, knalpot motor, klakson mobil, tukang bakso, deru kereta api. Azan sumbang yang berkumandang dari pertarungan toa-toa masjid menjadi penanda masamu, berikut bonus sekali waktu berupa kasidah ibu-ibu gila tampil atau pentas dangdut tujuh belas Agustus. Bahkan cuaca terik seolah berkuku: panjang menghujam papan tulis, menggaruk-garuk.

Seluruh keramaian ini memperdaya siapapun yang menaruh harapan pada dinamika tempo. Sebagian kota dunia memang bergerak lebih cepat dari lainnya, terus-menerus mengingatkanmu agar lekas naik sebab ia tak berhenti lama. Kereta, kau mencari kereta. Tapi di sini, kau tahu, kau tak beranjak ke mana-mana.

Kau mulai berakar. Kau mulai berlumut.

Kau percaya tempat-tempat tertentu bisa membujuk seseorang untuk bunuh diri. Namun, sebagaimana yang sering kau baca, tempat-tempat semacam itu biasanya cantik dan menyihir. Sungai Seine. Jembatan Golden Gate. Jakarta, celakanya, begitu panas, gersang, buruk rupa; wajahnya terlalu carut-marut untuk punya kemampuan menghasut. Dan di sanalah saat ini kau berumah, di kota penuh hasrat bunuh diri yang lumpuh.

Kau tetap tak bisa bergerak. Barangkali ini yang disebut orang ditindih setan. Di malam-malam sebelumnya kau memejamkan mata dan berdoa kepada siapa saja yang mendengarkan. Kau berhitung, berharap hidupmu berubah di angka tiga. Tapi tak ada yang berubah. Kau marah, lalu menantang semesta. Kalau memang ada setan yang ingin melumatmu, biarlah. Mungkin ini bisa menyelamatkanmu dari rasa bosan.

Mungkin setan butuh undangan yang lebih gamblang. Maka kau tidur telanjang dan mulai berhitung. Sebelum hitungan ketiga, lampu kamarmu mengerjap-ngerjap sesaat, lalu padam. Jendela kamarmu terbuka.

Dan di ujung tempat tidurmu berdirilah ia.