Gentayangan Buku Sastra Prosa Terbaik Tempo 2017

Novel Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu terpilih sebagai karya sastra bidang prosa terbaik pilihan Tempo 2017.

“… Namun, jika tujuan bacaan remaja itu dipersembahkan demi permainan sahaja, dalam prosa berjudul lengkap Gentayangan: pilih sendiri petualangan sepatu merahmu ini, permainan alur barulah satu di antara sekian banyak permainan susastra (baca: seni bercerita) yang telah dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendukung konsep gentayangan.”

Liputan selengkapnya:

Majalah Tempo, 15-21 Januari 2018

 

 

 

When Wandering the Globe Is a Feminist Choose-Your-Own Adventure

 

Concepts around travel and gender have been a focus of Intan for some time, so it’s no surprise they feature heavily in her debut novel. The Wandering bills itself as a novel about “travel and displacement, capturing those who are tempted by the edges, those in motion and paralyzed, those who flee and get caught.” You basically jump from section to section, making decisions that send you down a fork in the plot that introduce you to a cast of “travelers, tourists, migrants, all in their escape, border crossings, searches for home, routes, and emergency exits.”

Then you flip the book back to page one and start all over again.

***

But even though her book is about travel, and she’s expected to appear at the Ubud Writers and Readers Festival this week in the heart of Indonesia’s “find yourself” territory, Intan doesn’t believe in all that “get lost and rediscover yourself” bullshit. The whole notion smacks of white privilege and the kinds of inward-looking idleness that wealth can afford.

“Travel shouldn’t be an achievement,” she said. “I mean, what about those who can’t afford to ‘get lost’ in a faraway country?”

Continue reading

Hasrat dan Kreasi bersama Intan Paramaditha

Whiteboard Journal, 18 Oktober 2017

Febrina Anindita

… “Gentayangan” sangat berbeda sebetulnya dari “Sihir Perempuan,” dia bukan adik dari “Sihir Perempuan,” dia berangkat dari pemikiran yang berbeda. Ini adalah refleksi tentang bagaimana kita menjadi manusia yang berjalan atau terus diputar di era saat ini ketika batas-batas negara semakin luntur, bisa dibilang subjek global…

Kita belum bicara tentang pergerakan yang lain, misalnya diaspora Indonesia di luar negeri yang banyak ilegal, itu banyak sekali dan kita tidak membicarakan mereka, para imigran ilegal. Lalu ada juga refugee. Jadi manusia semakin bergerak, semakin mengalir, pergerakan manusia melintasi batas negara itu semakin dimungkinkan saat ini. Lalu, apa artinya menjadi subjek bergerak? Jadi ini adalah tentang pergerakan, tentang perjalanan, tentang subjek yang berputar di era yang global.

Selanjutnya

Mengolah sudut pandang dan berbicara sastra Indonesia bersama Intan Paramaditha

Rappler, 23 Oktober 2017

Sejak satu dekade terakhir, Intan mengaku tertarik pada isu kebangsaan dan kosmopolitanisme, rumah dan perjalanan, hingga ikatan dan ketercerabutan. Baginya, hal ini terinspirasi dari dirinya sendiri yang tak pernah benar-benar pulang ke Indonesia.

“Saya terus berpindah kota dan negara selama 12 tahun terakhir, dan karenanya pertanyaan tentang hubungan antara globalisasi dan batas negara, juga yang lokal dan global, selalu menggelitik saya,” ujarnya.

Kondisi Intan yang tertarik akan rumah, perjalanan, dan ketercerabutan itulah yang akhirnya melahirkan karya terbarunya, Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu. Novel fiksi terbarunya ini berformat ‘pilih sendiri petualanganmu’ dan mengajak pembacaranya untuk menemukan cerita para pengelana, turis, dan migran tentang pelarian, penyeberangan, pencarian atas rumah, rute, dan pintu darurat yang ada. Semua tergantung pembaca memilih jalan yang mana.

Gentayangan akan membawa pembacanya ke New York, perbatasan Tijuana, gereja di Haarlem, bahkan hingga masjid di Jakarta.

Novel ini terinspirasi dari derasnya arus pergerakan manusia melintasi batas-batas negara. Intan melihat banyaknya orang yang melakukan perjalanan dan perpindahan yang intens, mulai dari para turis, migran, sampai pengungsi. Selain itu, Gentayangan juga mempertanyakan arti ‘rumah’ dan ‘pulang.’

Gentayangan berkisah tentang hasrat menyeberang yang hadir bersama-sama sekaligus bersitegang dengan batasan dan tembok,” ucap wanita berusia 37 tahun ini.

Selanjutnya