Hasrat dan Kreasi bersama Intan Paramaditha

Whiteboard Journal, 18 Oktober 2017

Febrina Anindita

… “Gentayangan” sangat berbeda sebetulnya dari “Sihir Perempuan,” dia bukan adik dari “Sihir Perempuan,” dia berangkat dari pemikiran yang berbeda. Ini adalah refleksi tentang bagaimana kita menjadi manusia yang berjalan atau terus diputar di era saat ini ketika batas-batas negara semakin luntur, bisa dibilang subjek global…

Kita belum bicara tentang pergerakan yang lain, misalnya diaspora Indonesia di luar negeri yang banyak ilegal, itu banyak sekali dan kita tidak membicarakan mereka, para imigran ilegal. Lalu ada juga refugee. Jadi manusia semakin bergerak, semakin mengalir, pergerakan manusia melintasi batas negara itu semakin dimungkinkan saat ini. Lalu, apa artinya menjadi subjek bergerak? Jadi ini adalah tentang pergerakan, tentang perjalanan, tentang subjek yang berputar di era yang global.

Selanjutnya

Mengolah sudut pandang dan berbicara sastra Indonesia bersama Intan Paramaditha

Rappler, 23 Oktober 2017

Sejak satu dekade terakhir, Intan mengaku tertarik pada isu kebangsaan dan kosmopolitanisme, rumah dan perjalanan, hingga ikatan dan ketercerabutan. Baginya, hal ini terinspirasi dari dirinya sendiri yang tak pernah benar-benar pulang ke Indonesia.

“Saya terus berpindah kota dan negara selama 12 tahun terakhir, dan karenanya pertanyaan tentang hubungan antara globalisasi dan batas negara, juga yang lokal dan global, selalu menggelitik saya,” ujarnya.

Kondisi Intan yang tertarik akan rumah, perjalanan, dan ketercerabutan itulah yang akhirnya melahirkan karya terbarunya, Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu. Novel fiksi terbarunya ini berformat ‘pilih sendiri petualanganmu’ dan mengajak pembacaranya untuk menemukan cerita para pengelana, turis, dan migran tentang pelarian, penyeberangan, pencarian atas rumah, rute, dan pintu darurat yang ada. Semua tergantung pembaca memilih jalan yang mana.

Gentayangan akan membawa pembacanya ke New York, perbatasan Tijuana, gereja di Haarlem, bahkan hingga masjid di Jakarta.

Novel ini terinspirasi dari derasnya arus pergerakan manusia melintasi batas-batas negara. Intan melihat banyaknya orang yang melakukan perjalanan dan perpindahan yang intens, mulai dari para turis, migran, sampai pengungsi. Selain itu, Gentayangan juga mempertanyakan arti ‘rumah’ dan ‘pulang.’

Gentayangan berkisah tentang hasrat menyeberang yang hadir bersama-sama sekaligus bersitegang dengan batasan dan tembok,” ucap wanita berusia 37 tahun ini.

Selanjutnya